Krisis identitas Seorang Anak, Ketika Hidup di Tengah Keluarga Baru

    Krisis identitas Seorang Anak, Ketika Hidup di Tengah Keluarga Baru
    Krisis identitas Seorang Anak, Ketika Hidup di Tengah Keluarga Baru

    OPINI - Dari kebanyakan orang, keluarga adalah tempat yang paling aman. Di dalam keluarga itu seseorang belajar tentang kasih sayang, perhatian, dan arti kebersamaan tapi bagi sebagian  anak keluarga justru bisa menjadi tempat yang buat mereka merasa asing.

    Terutama ketika orang tua memutuskan untuk berpisah, lalu membangun kehidupan baru dengan padangan dan anak-anak lain. Situasi seperti itu sering kali menimbulkan perasaan campur aduk bingung, canggung, bahkan kehilangan arah.

    Buat seorang anak, ikut tinggal di keluarga baru bukanlah hal yang mudah, bukan cuma soal menyesuikan diri dengan orang baru, tapi juga tentang menerima kenyataan bahwa perhatian dan kasih sayang yang dulu utuh sekarang harus dibagi. Ada sosok ayah atau ibu baru yang harus dihormati, ada juga adik-adik baru yang lebih sering dapat perhatian, dan di tengah semua itu anak bisa merasa seperti "tamu" di rumah sendiri.

    Anak mungkin tidak mengeluh dan tetap berusaha akrab dengan semuanya tapi, jauh di dalam hatinya ada rasa sepi yang susah dijelaskan.

    Anak mungkin merasa ikut dalam keluarga itu tapi tidak benar-benar menjadi bagian darinya. Kadang anak hanya perlu di dengarkan, diingat, atau sekedar dipeluk seperti dulu bukan karna kasihan, tapi karna ia masih merasa penting.

    Kondisi seperti ini sering berdampak besar pada emosi anak, beberapa anak menjadi lebih tertutup, sulit percaya pada orang lain, atau mudah merasa tidak cukup baik. Padahal, yang mereka butuhkan  itu sederhana yaitu rasa diterima, mereka ingin tau bahwa keberadaanya masih berarti, bahwa cinta orang tuanya tidak bilang meskipun ada keluarga baru.

    Tanggung jawab besar ada pada orang tua, perlu kepekaan untuk menyadari bahwa anak dari pernikahan sebelumnya tidak boleh merasa tersingkir. Orang tua mesti belajar menyeimbangkan perhatian agar semua anak baik dari hubungan lama atau baru merasa dicintai dengan adil.

    Keluarga baru seharusnya bukan tentang siapa yang datang dulu atau siapa yang lebih penting, tapi tengtang gimana setiap orang bisa merasa aman dan diterima. Kalau komunikasi berjalan baik dan semua saling menghargai rumah akan tetap menjadi tempat pulang, bukan tempat dimana seseorang merasa sendirian meski dikelilingi banyak orang.

    Judul: Krisis identitas Seorang Anak, Ketika Hidup di Tengah Keluarga Baru

    Oleh: Shafanida Jilandhiya Mahasiswa Hukum Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

    Hari/tanggal: Selasa, 07 Oktober 2025

    jawa tengah banyumas shafanida jilandhiya mahasiswa uhb purwokerto opini publik berita kampus
    Narsono Son

    Narsono Son

    Artikel Sebelumnya

    Romansa yang Dikelola Pemerintah 

    Artikel Berikutnya

    Perempuan Korban Pelecehan Dipaksa Menikahi...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Wujud Kepedulian, Bapas Purwokerto Salurkan Paket Sembako kepada Klien Pemasyarakatan
    Gus Yaqut Bungkam Soal Status Tersangka Korupsi Kuota Haji
    Menteri Keuangan Respons Pengunduran Diri Dirut BEI: Bentuk Tanggung Jawab
    Pungli PKL Undip Pleburan: Disdag Semarang Ungkap Motif Oknum Ormas
    Tingkatkan Keterampilan, Warga Binaan Lapas Narkotika Purwokerto ikuti Pelatihan Barista

    Ikuti Kami